| Jakarta. Pemerintah ingin meningkatkan hubungan perekonomian dan bisnis dengan Arab Saudi. Peluang itu terbuka lebar dengan adanya kedatangan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al-Saud. |
| Selama ini para pengusaha Arab Saudi lebih tertarik berinvestasi di Malaysia ketimbang Indonesia. Ekonom UI, Ninasapti Triaswati, menilai bahwa Malaysia lebih cekatan dalam menarik investasi dari Arab Saudi. Paket-paket investasi yang disiapkan Negeri Jiran lebih praktis. "Arab itu punya banyak pilihan, Malaysia sudah lebih ready, bagaimana mereka (Malaysia) bisa siapkan paket yang sudah jadi," kata Nina dalam diskusi di Gado-gado Boplo, Jakarta, Sabtu (4/3). Ia menambahkan, para pengusaha Arab Saudi tak suka dengan perizinan investasi yang rumit. Indonesia harus memangkas perizinan dan birokrasi supaya lebih menarik. "Mereka ( pengusaha Arab) enggak suka direcokin sana sini. Kita harus perbaiki diri, PR kita sifatnya teknis," ucapnya. Salah satu contoh kerumitan yang kerap membuat investor dari Arab Saudi kabur adalah perizinan di daerah. Banyak pemerintah daerah (pemda) yang melihat investor sebagai 'dompet berjalan', dimintai biaya ini itu untuk berbagai macam izin. Padahal, daerah bisa mendapat multiplier effect lebih besar kalau investasi masuk, mulai dari peningkatan lapangan kerja hingga kesejahteraan penduduk. "Jadi bagaimana pemda bisa menerima investor itu sebagai berkah, bukan sebagai pengusaha yang bisa dimintain uang," tukasnya. Sebelumnya, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P. Roeslani menyatakan banyak dari pengusaha Arab Saudi yang tertarik untuk berinvestasi di sektor jasa keuangan syariah di negara yang memiliki penduduk mayoritas Muslim. Namun para pengusaha Arab Saudi lebih mengenal Malaysia ketimbang Indonesia, lantaran minimnya komunikasi. "Ini juga mereka akan lebih koordinasi dengan OJK. Ini karena faktor kurangnya komunikasi, mereka bilang kita kenalkan lama dulu sebelum investasi. Jadi baik bentuk kunjungan bisnis forum harus diperbanyak," katanya. Padahal menurut Rosan, harusnya Indonesia memiliki ketertarikan yang lebih besar ketimbang Malaysia. Sebab Indonesia memiliki penduduk yang jauh lebih besar. Oleh karena itu, lanjutnya, kedatangan Raja Salman menjadi peluang besar untuk membeberkan peluang investasi di Indonesia. Pemerintah juga harus memamerkan kemudahan-kemudahan berinvestasi di NKRI. Rosan juga menginginkan agar hubungan kerja sama yang bakal terjalin dengan pengusaha maupun pemerintah Arab Saudi tidak hanya sekedar penandatanganan MoU, tapi bisa diimplementasikan. |
Saturday, March 4, 2017
Lebih Siap Mana, RI atau Malaysia Tampung Investasi Arab Saudi?
Labels:
Indonesia
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment